https://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/issue/feedSITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional2026-01-30T00:00:00+07:00Rahmayulis, M.Farmrahmayulis2011@gmail.comOpen Journal Systems<p><strong>SITAWA : Jurnal Farmasi Sains dan Obat Tradisional </strong>merupakan jurnal ilmiah yang dikelola secara resmi oleh Akademi Farmasi Imam Bonjol Bukittinggi dan disediakan dalam format akses terbuka sehingga seluruh artikel dapat diakses dan diunduh oleh publik. Jurnal ini merupakan jurnal kajian nasional yang terbit dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Januari dan Juli, dengan cakupan topik yang menyoroti hasil-hasil penelitian unggulan di bidang Farmasi, Teknologi Kefarmasian, Desain Produk Kefarmasian, serta Pelayanan dan Praktik Kefarmasian, termasuk penelitian berbasis pengobatan masyarakat yang berorientasi pada pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional.</p> <p data-start="848" data-end="1148">Jurnal ini memfokuskan publikasi pada tema-tema ilmiah yang mencakup Farmakognosi, Fitokimia, Farmasetika, Kimia Farmasi, Farmasi Klinis, dan Farmasi Komunitas, dengan perhatian khusus pada penelitian dasar hingga terapan dalam bidang obat tradisional serta potensi hilirisasinya di bidang kesehatan.</p> <p>Oleh karena itu, SITAWA juga terus mengundang penulis untuk berkontribusi artikel, terutama yang merupakan hasil penelitian yang bersifat Original.</p>https://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/157Studi Etnofarmakologi Terhadap Pemanfaatan Tumbuhan Obat Oleh Masyarakat Desa Menawan, Kabupaten Kudus2025-06-13T09:18:02+07:00Salmanera Senja Lopianisalmanera17@student.iainkudus.ac.idPutri Ayu Lestariputriayuu@ms.iainkudus.ac.idAnik Nafisah Maulidaaniknafisah@ms.iainkudus.ac.idAdieba Warda Hayyaadiebawarda@iainkudus.ac.id<p>Penelitian ini merupakan studi etnofarmakologi yang mengkaji pemanfaatan tumbuhan obat oleh masyarakat Desa Menawan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dengan metode survei eksploratif melalui kuesioner dan wawancara semi-terstruktur terhadap 15 informan lokal, ditemukan 12 jenis tumbuhan obat yang secara tradisional digunakan untuk mengatasi gangguan kesehatan seperti demam, gangguan pencernaan, batuk, dan kelelahan. Tumbuhan ini umumnya dibudidayakan di pekarangan rumah dan diolah secara tradisional melalui perebusan, penumbukan, atau perendaman. Pengetahuan tentang tumbuhan obat diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, sehingga rentan hilang akibat modernisasi. Penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian dan dokumentasi pengetahuan pengobatan tradisional sebagai warisan budaya sekaligus dasar ilmiah untuk pengembangan obat herbal lokal</p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Salmanera Senja Lopiani, Putri Ayu Lestari, Anik Nafisah Maulida, Adieba Warda Hayyahttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/196Optimization Of Bilberry Extract (Vaccinium myrtillus L.) Micellar Water Formulation With Humectant Variation Using The Simplex Lattice Design (Sld) Method2025-10-17T11:03:09+07:00Sharon Susantosharon.susanto@atmajaya.ac.id<p><em>Micellar water</em><em> is a water-based cosmetic formulation designed to cleanse the face effectively without the need for rinsing. This study aimed to develop and optimize a micellar water formulation containing bilberry (Vaccinium myrtillus L.) extract—known for its antioxidant properties—combined with humectants glycerin and propylene glycol. The optimization process was carried out using the Simplex Lattice Design (SLD) method. Phytochemical screening of the bilberry extract confirmed the presence of active secondary metabolites including flavonoids, polyphenols, tannins, triterpenoids, and saponins. Five formulations were evaluated based on organoleptic properties, pH, viscosity, foam height, and foam stability. All formulations met standard cosmetic specifications. SLD analysis indicated that variations in humectant concentration only statistically significant effect (p < 0.05) on the foam height parameter. The optimal formula was identified with a combination of 9.75% propylene glycol and 5.25% glycerin, achieving a desirability value of 1.000. In conclusion, this formulation shows great potential as a natural, effective, and skin-friendly micellar water product.</em></p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Sharon Susantohttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/184Skrining Anti Depresant Waltheria indica L. Dengan Menghambat Monoamine Oxidase Dan Uji Aktifitas Ektrak Etil Asetat2025-09-04T04:54:45+07:00pertiwi awildapertiwiawilda.oppo@gmail.comRatna Mildawatiratnamildawati@gmail.comSamsul Hadisamsul.hadi.apt@gmail.comNanda Hesti Rahmawatinandahesti00504@gmail.comErika Indrianierikaindriani2408@gmail.com<p>Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan mental yang prevalensinya semakin meningkat pada generasi muda dan memerlukan alternatif terapi berbasis bahan alam yang lebih aman. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas antidepresan ekstrak etil asetat Waltheria indica L. melalui pendekatan in vivo dan docking molekuler. Metode yang digunakan meliputi uji in vivo pada tikus Wistar dengan model Chronic Mild Stress (CMS) yang dievaluasi menggunakan Forced Swimming Test (FST) dan Open Field Test (OFT), serta analisis docking molekuler menggunakan AutoDock Vina terhadap target Monoamine Oxidase. Hasil docking menunjukkan senyawa quercetin memiliki energi ikatan paling rendah (-6,977) dengan interaksi residu kunci, menandakan potensi kuat sebagai penghambat. Uji in vivo memperlihatkan adanya penurunan imobilitas dan peningkatan lokomotor yang signifikan seiring kenaikan dosis, dengan efek terbaik pada dosis 350 mg/kgBB. Data ini konsisten dengan kontrol positif (Ashwagandha®) dan mendukung adanya mekanisme antidepresan. Kesemipulan ekstrak etil asetat W. indica berpotensi dikembangkan sebagai kandidat terapi antidepresan berbasis bahan alam.</p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 pertiwi awilda, Ratna Mildawati, Samsul Hadi, Nanda Hesti Rahmawati, Erika Indrianihttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/168Characteristics Of Microencapsulation Of Nades (Natural Deep Eutectic Solvent) Extract Of Senduduk Leaves (Melastoma malabathricum L.)2025-07-10T13:43:05+07:00Jihan Almasshabihahjihanalmasshabihah5@gmail.comMariska Ruri Putri RuriPutri123@gmail.comAs’adi M. Henityo Agung M.HenityoAgung@gmail.com<p>Melastoma malabathricum L. (senduduk leaf) is a medicinal plant containing flavonoid compounds such as quercetin, which possess significant antioxidant potential. However, these bioactive compounds are relatively unstable under environmental influences. This study aimed to evaluate the physicochemical characteristics and antioxidant activity of microencapsulated M. malabathricum L. extract obtained using a Natural Deep Eutectic Solvent (NaDES) composed of choline chloride and lactic acid. Extraction was performed using the Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) method, followed by microencapsulation with a combination of maltodextrin and gum arabic in three different formulations. Antioxidant activity was assessed using the DPPH method to determine IC₅₀ values, while physical characterization included measurements of particle size, polydispersity index (PDI), and zeta potential. The results showed that Formula 3 had the highest antioxidant activity (IC₅₀ = 12.55 ppm), with particle sizes of 39.5 nm and 453 nm, a PDI of 0.892, and a zeta potential of -45.0 mV, indicating good dispersion stability. Microencapsulation of M. malabathricum L. extract with maltodextrin and gum arabic was effective in enhancing physical stability and preserving antioxidant activity</p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Jihan Almasshabihah, Mariska Ruri Putri , As’adi M. Henityo Agung https://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/190Antibacterial Potential Of Endophytic Fungi Isolated From Pachyrhizus Erosus (Bengkoang)2025-09-26T13:07:04+07:00Khiky Dwinatranakhikynatrana@fikes.unbrah.ac.idFadilla LiraLirafadilla@gmail.comRustini Rustinirustiniruslan@gmail.comFerdian Arifferdianarif@gmail.com<p><em>The search for new antibacterial agents has increasingly focused on endophytic fungi, which inhabit plant tissues and may complement the bioactivity of their hosts. Pachyrhizus erosus (bengkoang), an edible legume rich in phenolics and flavonoids, remains underexplored as a reservoir of fungal endophytes with antibacterial potential. This study aimed to isolate endophytic fungi from P. erosus and evaluate their antibacterial properties. Tuber and leaf tissues were surface sterilized, yielding five isolates (PE1–PE5) that were cultured on rice medium, extracted with ethyl acetate, and tested against Staphylococcus aureus ATCC 29213 and Escherichia coli ATCC 25922 using the Kirby–Bauer disc diffusion method. All extracts inhibited bacterial growth, with PE2 showing the strongest activity (15.7 ± 1.40 mm for S. aureus and 14.4 ± 0.32 mm for E. coli). TLC profiling of PE2 extract revealed multiple spots under UV (254 and 366 nm), and phytochemical screening indicated the presence of phenolics and triterpenoids. Taken together, the results demonstrate that tuber-associated endophytic fungi of P. erosus are capable of producing antibacterial metabolites comparable to plant-derived compounds, underscoring their potential as sources of antimicrobial agents.</em></p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Khiky Dwinatrana, Fadilla Lira, Rustini Rustini, Ferdian Arifhttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/227Perbandingan Kandungan Fenolik Total Dan Antioksidan Ekstrak Akar Tapak Liman (Elephantopus scaber Linn Dan Elephantopus mollis Kunth)2025-12-12T09:20:08+07:00Mega Yuliamegayuriano@yahoo.com.sgMelta Adelyameltaadelyaa@gmail.comHazli Nurdinmegapramunatus@gmail.comOkta Feraoktafera123@gmail.com<p>Two species of tapak liman plants commonly known in Indonesia, <em>Elephantopus scaber</em> Linn and <em>Elephantopus mollis</em> Kunth, belonging to the Asteraceae family, are known to have many health benefits. Tapak liman plants produce secondary metabolites such as phenolics. Phenolic compounds are known to act as antioxidants. This study aims to determine the comparison of total phenolic content in ethanol extracts of <em>E. scaber</em> and <em>E. mollis</em> roots, as well as the comparison of antioxidant activity between <em>E. scaber</em> and <em>E. mollis</em> roots using the DPPH method. The results of phytochemical screening of ethanol extracts from <em>E. scaber</em> and <em>E. mollis</em> roots revealed the presence of phenolic compounds, flavonoids, and terpenoids. The total phenolic compound content in <em>E. scaber</em> samples was determined to be 4.31% and in <em>E. mollis</em> samples to be 2.35%. The determination of the maximum absorption wavelength of DPPH at 35 µg/ml using a UV-Vis spectrophotometer showed a maximum absorption wavelength of 519 nm with an absorbance of 0.610. The antioxidant activity of the ethanol extract of <em>E. scaber</em> roots was obtained with an IC<sub>50</sub> of 131.4431 µg/ml, while that of <em>E. mollis</em> roots was 106.4321 µg/ml. Based on these results, it can be concluded that the total phenolic content of the ethanol extract of <em>E. scaber</em> roots is higher than that of <em>E. mollis</em> roots. Furthermore, the antioxidant activity of the <em>E. scaber</em> root extract is stronger than that of the <em>E. mollis</em> root extract, but both still fall into the same category, namely the moderate category. Based on statistical tests using the T test, it shows that the significant differences for phenolic content and not significant for antioxidant activity (<em>p </em>< 0.05).</p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Mega Yulia, Melta Adelya, Hazli Nurdin, Fera Oktahttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/228Formulasi Dan Uji Aktivitas Analgetik Gel Minyak Atsiri Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) Sebagai Analgetik Topikal2025-12-13T16:35:22+07:00riki ranovamgee067@gmail.comHilmarnihilmarniafzan@gmail.comMughnie Hazjirah Irwandimughnie123@gmail.comMulyani Dwidwimulyani.mul21@gmail.com<p>Minyak atsiri daun cengkeh (<em>Syzygium aromaticum</em>) mengandung senyawa eugenol yang berpotensi sebagai analgetik. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas analgetik gel minyak atsiri daun cengkeh dengan konsentrasi 2%, 3%, dan 4% menggunakan mencit dengan metode formalin test. Sediaan gel dioleskan secara topikal sebelum induksi nyeri dengan formalin yang disuntikkan secara subkutan pada punggung kaki mencit. Aktivitas analgetik dievaluasi dari respon menjilat serta menggigit diamati setiap 5 menit selama 20 menit. Sebagai kontrol positif menggunakan krim metil salisilat, sedangkan kontrol negatif berupa gel tanpa minyak atsiri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula gel mampu menurunkan frekuensi respon menjilat dan menggigit dibandingkan kontrol negatif, dengan efektivitas tertinggi pada formula 4%, disusul formula 3% dan 2%. Formula 4% menunjukkan aktivitas yang mendekati kontrol positif terutama pada fase nyeri awal, mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi minyak atsiri berbanding lurus dengan peningkatan aktivitas analgetik. Secara keseluruhan, gel minyak atsiri daun cengkeh memiliki aktivitas analgetik topikal yang signifikan dan bersifat dose-dependent, dengan formula 4% sebagai konsentrasi paling efektif untuk dikembangkan sebagai kandidat sediaan analgetik berbasis bahan alam.</p>2026-01-28T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 riki ranova, Hilmarni, Mughnie Hazjirah Irwandihttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/164Pengaruh Variasi Minyak Kelapa Terhadap Karakteristik Fisik Sabun Padat Minyak Atsiri Sereh Wangi2025-06-27T20:52:00+07:00Oktavia Listiyanioktavialistiyani@gmail.comArief Kusuma Wardaniariefkusumawardani@unimma.ac.idFitriana Yuliastutifitriana@unimma.ac.idIsmanurrahman HadiIsmanhadi12@gmail.com<p>Sabun padat merupakan produk pembersih yang semakin diminati karena efektif dan ekonomis. Salah satu bahan alami potensial dalam pengembangan sabun padat adalah minyak atsiri sereh wangi sebagai antibakteri, serta minyak kelapa yang berperan dalam pembentukan busa sabun. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasi minyak kelapa terhadap karakteristik fisik sabun padat berbahan aktif minyak atsiri sereh wangi. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga formula berbeda (F1: 18%, F2: 16%, F3: 14% minyak kelapa) dan konsentrasi minyak atsiri tetap 2%. Evaluasi dilakukan terhadap parameter organoleptik, pH, tinggi busa, dan stabilitas busa selama penyimpanan empat minggu. Hasil menunjukkan bahwa F1 memiliki kestabilan bentuk dan warna terbaik, sementara F3 menghasilkan tinggi dan stabilitas busa paling konsisten. Seluruh formula berada dalam rentang pH sesuai SNI 3532:2021. Kesimpulannya, variasi konsentrasi minyak kelapa memengaruhi karakteristik fisik sabun, dan formulasi F1 dinilai paling optimal dalam mendukung pembentukan dan kestabilan busa.</p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Oktavia Listiyani, Arief Kusuma Wardani, Fitriana Yuliastuti, Ismanurrahman Hadihttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/194Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kulit Jeruk Manis (Citrus sinensis L.) Dalam Mouthwash Terhadap Aktifitas Bakteri Streptococcus mutans2025-10-10T14:58:58+07:00Wida Ningsihnwida777@gmail.comAyudia ElisaElisaAyudia@gmail.comArel AfdhilAfdhilarel@gmail.comDesnita Ekaekadesnita@gmail.comSalsabila Tiaratiarasalsabila@gmail.com<p>Halitosis atau dikenal juga dengan bau mulut yang disebabkan oleh salah satunya bakteri <em>Streptococcus mutans</em>. Upaya untuk mengatasi halitosis yaitu menjaga kebersihan mulut dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut. Kulit jeruk manis (<em>Citrus sinensis </em>L. mengandung senyawa flavonoid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri <em>Streptococcus mutans</em><em>. </em>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak dalam bentuk <em>mouthwash</em> yang dapat menghambat bakteri penyebab bau mulut. Pada penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Kulit jeruk manis diformulasi bentuk sediaan obat kumur dengan variasi konsentrasi 10%; 14% dan 18% serta dilakukan pengujian aktifitas antibakteri dengan metode difusi agar menggunakan cakram. Obat kumur yang sudah diformulasi disimpan pada suhu kamar selama 21 hari dan mengamati sifat fisik obat kumur meliputi organoleptis, pengujian kejernihan, pH, bobot jenis dan viskositas. Sifat fisik sediaan obat kumur yang diformulasi menunjukkan hasil yang hampir sama dengan sifat fisik pada sediaan obat kumur yang sudah beredar dipasaran. Untuk sediaan <em>mouthwash </em>pada formula F0 daya hambat sebesar 8 mm dan F1(10%) 10 mm yang termasuk kategori daya hambat sedang sedangkan pada F2 (14%) 12 mm dan F3 (18%)14 mm yang termasuk kategori daya hambat yang kuat. Analisis data menggunakan uji <em>One Way Anova </em>dengan hasil p>0,005 yang menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan antara konsentrasi ekstrak dan sediaan <em>mouthwash</em>.</p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Wida Ningsih, Ayudia Elisa, Arel Afdhil, Desnita Eka, Salsabila Tiarahttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/206Formulasi Dan Uji Efektivitas Analgetik Balsem Minyak Atsiri Biji Pala (Myristica fragrans) Pada Mencit Putih Jantan2025-11-21T08:44:24+07:00Elmitra Elmitraelmitrarahman@gmail.comDharma Meta Emilia SuryaMetaEmiliaSuryaDharma@gmail.comOktavia Sri BellaSriBellaOktavia@gmail.com<p>Minyak atsiri biji pala mengandung eugenol, linalool dan miristisin yang memiliki aktivitas sebagai analgetik. Penelitan ini bertujuan untuk memformulasi minyak atsiri biji pala (<em>Myristica fragrans</em>) menjadi balsem dengan berbagai konsentrasi, mengetahui efektivitas analgetik sediaan balsem minyak atsiri biji pala dan melihat konsentrasi sedian yang memiliki efektivitas analgetik paling baik. Balsem dibuat menjadi empat formula F0, F1, F2, dan F3. Evaluasi sediaan balsem meliputi uji organoleptis, pH, homogenitas, daya sebar, stabilitas, daya lekat dan uji iritasi. Hasil uji pH selama 6 minggu didapatkan rentang pH sediaan berkisar 5,35-6,24. Uji homogenitas didapatkan bahwa sedian balsem homogen. Uji stabilitas menunjukkan keempat sediaan stabil secra fisik. Uji daya sebar didapatkan hasil 5,19-5,41. Uji iritasi balsem tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit. Uji efektivitas sediaan balsem dilakukan dengan dua metode yaitu hotplate dan jentik ekor. Uji analgetik metode hotplate dan jentik ekor didapatkan waktu puncak latency pada menit ke 90 dan dengan %MPE yaitu 93,18% pada metode hotplate dan 35,86% untuk jentik ekor. Dari data waktu respon seluruh kelompok dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA dua arah dan dilakukan uji Duncan. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu minyak atsiri biji pala dapat diformulasi menjadi sediaan balsem dengan berbagai konsentrasi, balsem minyak atsiri biji pala memiliki efektivitas analgetik dengan konsentrasi efektivitas analgetik paling baik pada metode hotplate dan jentik ekor yaitu 8%.</p> <p> </p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Elmitra Elmitra, Dharma Meta Emilia Surya, Oktavia Sri Bellahttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/233Pengaruh Ekstrak Daun Kitolod (Hippobroma longiflora L.) Terhadap Kadar Malondialdehid Dan Jaringan Histopatologi Hati Tikus Putih Jantan Yang Diinduksi Isoniazid Dan Rifampisin2025-12-20T00:31:04+07:00Ria afriantiriaafrianti.apt@gmail.comSuhatri SuhatriSuhatri@gmail.comAina NurNurAina@gmail.comRanova Rikiriki.farm@gmail.com<p>Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia dan memerlukan pengobatan jangka panjang dengan kombinasi isoniazid dan rifampisin. Pengunaan isoniazid dan rifampisin untuk mengobati penyakit tuberkulosis dapat menyebabkan hepatotoksisitas melalui mekanisme stres oksidatif yang ditandai dengan peningkatan kadar malondialdehid (MDA) dan kerusakan jaringan hati. Daun kitolod (<em>Hippobroma longiflora</em> L.) mengandung senyawa antioksidan diduga dapat menurunkan kadar MDA dan membantu memperbaiki kerusakan hati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kitolod terhadap kadar malondialdehid dan gambaran histopatologi hati tikus putih jantan yang diberi isoniazid dan rifampisin. Pada penelitian ini hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dosis ekstrak 100 mg/kgBB, 200 mg/kgBB, dan 400 mg/kgBB. Pengukuran kadar MDA dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan gambaran histopatologi menggunakan metode pewarnaan <em>Hematoksilin-Eosin</em> (HE). Nilai rata-rata kadar MDA pada kelompok kontrol negatif adalah 2,07 nmol/mL, kontrol positif adalah 3,28 nmol/mL, kelompok dosis 100 mg/kgBB adalah 2,59 nmol/mL, kelompok dosis 200 mg/kgBB adalah 2,42 nmol/mL, dan kelompok dosis 400 mg/kgBB adalah 2,30 nmol/mL. Hasil nilai rata-rata kadar MDA kelompok dosis 200 mg/kgBB dan 400 mg/kgBB secara signifikan (p<0,05) mendekati nilai rata-rata kadar MDA kelompok kontrol negatif. Hasil pengamatan histopatologi hati menunjukkan perbaikan kerusakan hati yang baik dengan dosis 400 mg/kgBB mendekati kontrol negatif. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun kitolod dapat menurunkan kadar MDA dan memperbaiki kerusakan jaringan hati tikus putih jantan yang diinduksi isoniazid dan rifampisin.</p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Ria afrianti, Suhatri Suhatri, Aina Nur, Ranova Rikihttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/237Aktivitas Antioksidan, Kandungan Fenolik Dan Flavonoid Total Dari Ekstrak Etanol Daun Sauropus androgynus Dari Berbagai Wilayah Provinsi Riau, Indonesia2025-12-28T08:09:36+07:00Rahayu Utamirahayuutami@stifar-riau.ac.idZahira RifkaRifkaZahira@gmail.comHasti SyilfiaSyilfiaHasti@gmail.comFuri MustikaMustikaFuri@gmail.comFarsesa Roscha UlfaRoschaUlfaFarsesa@gmail.comLestari PutriPutriLestari@gmail.comFadhli HaiyulHaiyulFadhli@gmail.com<p><em>Sauropus androgynus</em> (katuk) merupakan tumbuhan obat dari famili Euphorbiaceae yang kaya akan senyawa fenolik dan flavonoid dengan potensi aktivitas antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan, kandungan fenolik dan flavonoid total dari ekstrak daun <em>Sauropus androgynus</em> dari beberapa wilayah di Provinsi Riau, Indonesia. Daun tumbuhan tersebut dikumpulkan dari lima lokasi berbeda, yaitu Kabupaten Pelalawan (PLN), Kampar (KMP), Rokan Hulu (RHU), Kepulauan Meranti (KMI), dan Kota Pekanbaru (PKU). Simplisia daun katuk diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol . Penentuan kandungan fenolik dan flavonoid total dilakukan dengan metode kolorimetri dengan menggunakan pereaksi <em>Folin Ciocalteu</em> dan AlCl<sub>3</sub>, sedangkan aktivitas antioksidan ekstrak dievaluasi menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun katuk KMI memberikan total kandungan fenolik dan flavonoid tertinggi, dengan nilai masing-masing 79,536±0,349 mgGAE (<em>Gallic Acid Equivalent</em>)/g dan 67,780±2,295 mgQE (<em>Quercetin Equivalent</em>)/g ekstrak. Ekstrak ini juga memberikan aktivitas antioksidan yang paling potensial dan berbeda secara signifikan dengan ketiga ekstrak lainnya (PKU, PLN, dan KMP) dengan nilai IC<sub>50</sub> 32,7±3,43 μg/mL. Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa faktor geografis berpengaruh terhadap kandungan senyawa bioaktif dan aktivitas antioksidan daun katuk.</p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Rahayu Utami, Zahira Rifka, Hasti Syilfia, Furi Mustika, Farsesa Roscha Ulfa, Lestari Putri, Fadhli Haiyulhttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/238Effect Of Postharvest Drying Methods On Total Flavonoid Content, Total Phenolic Content, Antioxidant Activity, And Sensory Acceptance Of Coffee Mistletoe (Scurrula ferruginea [Roxb. Ex Jack] Danser) Tea2025-12-28T22:57:38+07:00Nofrizalnofrizal067@gmail.comShinta Angelia Astarienofrizal067@gmail.comLusia Eka Putrinofrizal067@gmail.com<p><em>Postharvest drying is a critical step in herbal tea processing as it affects the quality of simplicia, phytochemical content, biological activity, and sensory characteristics of the product. This study aimed to evaluate the effect of postharvest drying methods on total flavonoid content, total phenolic content, antioxidant activity, and sensory acceptance of coffee mistletoe (</em><em>Scurrula ferruginea </em><em>[Roxb. ex Jack] Danser) leaf tea. Coffee mistletoe leaves were dried using three different methods: sun drying, oven drying at 40°C, and room-temperature air drying. The dried samples were characterized physicochemically and analyzed for total flavonoid content (AlCl₃ method), total phenolic content (Folin–Ciocalteu method), and antioxidant activity using the DPPH radical scavenging assay (IC₅₀). A sensory acceptance test involving 20 panelists was conducted to evaluate aroma, color, and taste of the tea infusion. The results showed that the drying method significantly affected all evaluated parameters (p < 0.05). Sun drying produced the highest total flavonoid content (2.15 mmol QE/100g sample) and the highest sensory acceptance. Room-temperature drying resulted in the highest total phenolic content (51.41 mmol GAE/100g sample) and the strongest antioxidant activity with the lowest IC₅₀ value (86.4 µg/mL). Oven drying was the most effective in reducing moisture content but led to the greatest losses in flavonoids, phenolics, antioxidant activity, and sensory quality. In conclusion, room-temperature drying is more suitable for maximizing antioxidant potential, whereas sun drying is preferable for producing herbal tea with better consumer acceptance.</em></p>2026-01-29T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Nofrizal, Shinta Angelia Astarie, Lusia Eka Putrihttps://ejournal.akfarimambonjol.ac.id/index.php/jfkes/article/view/224Uji Sitotoksik Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus mauritiana) Yang Tumbuh Di Bukittinggi Dan Di Sijunjung Dengan Metode BSLT (Brine shrimp Lethality Test)2025-12-10T12:44:18+07:00rahmayulisrahmayulis2011@gmail.comAndini Auliarahmayulis2011@gmail.comHilmarnihilmarnihil@gmail.comKusuma Ariya Ekaariya.eka.kusuma@gmail.com<p><em>Bidara leaves are a plant that can be used as a traditional medicine. Bidara leaves are believed to have properties that can treat mouth ulcers, lower cholesterol levels and even have potential in treating cancer. Bidara leaves contain secondary metabolites, include alkaloids, flavonoids, phenolics, terpenoids, and saponins. This study aims to determine the differences in cytotoxic activity of bidara leaves growing in the Bukittinggi and Sijunjung areas using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. Bidara leaves were extracted by maceration using 96% ethanol solvent, resulting in a thick extract of Bukittinggi bidara leaves of 15.3 g with a yield of 3.82% and a thick extract of Sijunjung bidara leaves of 19 g with a yield of 5.42%. In the cytotoxic test, the concentration of the test solution used was 10 ppm, 100 ppm, 1,000 ppm, and 10,000 ppm. The results of the cytotoxic activity test of Bukittinggi bidara leaves and Sijunjung bidara leaves were known to be very toxic, with different LC<sub>50 </sub>values, the ethanol extract of Bukittinggi bidara leaves had an LC<sub>50</sub> value of 151.35 ppm and the ethanol extract of Sijunjung bidara leaves had an LC<sub>50</sub> value 128.82 ppm. From the results of this study, it can be concluded that the ethanol extract of Sijunjung bidara leaves is more toxic than the ethanol extract of Bukittinggi bidara leaves</em></p>2026-01-31T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 rahmayulis, Andini Aulia, Hilmarni, Kusuma Ariya Eka